Kesalahan Ilmiah Teks Bible

Lanjutan Dari Kesalah Teks bible (1)

Sebaliknya, para spesialis pada masa kita sekarang
merasa bangga untuk mempertahankan teks Bibel terhadap
sangkaan kesalahan. R.P. de Vaux, dalam Pengantar
kepada Kitab Kejadian memberikan sebab-sebab yang
mendorongnya untuk mempertahankan teks Bibel, walaupun
teks tersebut ternyata tidak dapat diterima dan segi
sejarah atau dari segi Sains. Ia meminta kita "supaya
jangan memandang sejarah dalam Bibel dengan kacamata
metode-metode yang diikuti oleh orang-orang modern,"
seakan-akan ada beberapa cara untuk menulis sejarah.
Jika sejarah itu ditulis dengan cara yang tidak betul,
maka ia menjadi roman sejarah. Tetapi dalam hal ini,
sejarah menjadi terlepas dari konsep-konsep kita.
Ahli-ahli tafsir Bibel menolak pengamatan teks Bibel
dengan geologi, paleontologi dan ilmu pra sejarah. Ia
menulis: Bibel tidak ada sangkut pautnya dengan
disiplin-disiplin tersebut. Jika seseorang ingin
mengkonfrontasikan Bibel dengan ajaran Sains, ia hanya
akan mencapai sebagai hasilnya, suatu pertentangan yang
tidak riil, atau suatu persesuaian yang "semu." Perlu
diterangkan disini bahwa pemikiran-pemikiran ini
dikemukakan berhubung dengan hal-hal yang terdapat
dalam Kitab Kejadian yang sama sekali tidak sesuai
dengan Sains modern yakni yang terkandung dalam 11
fasal yang pertama. Tetapi jika ada bagian-bagian Bibel
yang sekarang ini diperkuat oleh ilmu pengetahuan,
umpamanya beberapa hikayat dari zaman nabi-nabi bangsa
Israil, pengarang tidak segan-segan memakai pengetahuan
modern untuk menunjang kebenaran Bibel. Ia menulis
dalam halaman 34: Keragu-raguan terhadap hikayat ini
harus disingkirkan karena sejarah dan arkeologi Timur
telah memberikan kesaksian yang menguntungkan. Dengan
kata lain: jika Sains berfaedah untuk menguatkan teks
Bibel ia menggunakannya; jika Sains melemahkan teks
Bibel, orang tak boleh mempergunakan Sains untuk
menyesuaikan hal-hal yang tidak dapat disesuaikan,
yakni untuk menyesuaikan teori bahwa Bibel itu mutlak
benar. Dengan kekeliruan-kekeliruan yang terdapat dalam
Perjanjian Lama, ahli-ahli teologi modern mencoba
meninjau kembali tentang konsep klasik mengenai
kebenaran. Untuk menyebutkan secara terperinci
argumentasi-argumentasi rumit yang berkembang dalam
karangan-karangan mengenai Kebenaran Bibel seperti
karangan O. Lorentz (1972) "Apakah kebenaran Bibel itu
(quelle est la verite de la Bibel), akan membawa kita
keluar dari rangka buku ini; cukuplah kiranya jika kita
cantumkan disini pantangannya mengenai Sains."

Penulis menyebutkan bahwa Konsili Vatikan II
berhati-hati untuk memberi patokan guna membedakan
antara kekeliruan dan kebenaran dalam Bibel.
Pertimbangan-pertimbangan fundamental menunjukkan bahwa
hal tersebut adalah mustahil oleh karena Gereja tidak
dapat memutuskan kebenaran atau kesalahan metode ilmiah
sehingga ia juga tidak dapat memutuskan kebenaran Bibel
secara umum dan menurut prinsip.

Memang jelas bahwa Gereja tak dapat mengatakan terus
terang mengenai metode ilmiah sebagai usaha untuk
sampai kepada Pengetahuan. Tapi itu bukan persoalan
yang kita bicarakan. Kita tidak membicarakan
teori-teori tetapi membicarakan fakta yang jelas.
Apakah kita harus menjadi pendeta besar di zaman kita
ini untuk mengetahui bahwa alam itu tidak diciptakan
dan bahwa manusia itu tidak timbul di dunia ini
semenjak 37 atau 38 abad, atau mengetahui bahwa
perkiraan yang didasarkan atas silsilah keturunan dalam
Bibel mungkin dianggap salah, tanpa ada resiko
kekeliruan. Pengarang yang namanya disebut di sini (O.
Lorentz) tentu mengetahui hal ini. Keteranganrrya
tentang Sains hanya dimaksudkan untuk mengelakkan
persoalan, karena ia tidak membahas persoalan tersebut
secara yang semestinya.

Bahwa kita menyebutkan sikap para pengarang Kristen
dalam menghadapi kekeliruan ilmiah dalam teks Bibel
menunjukkan kesulitan yang timbul karenanya dan
menunjukkan pula bahwa tidak mungkin untuk menerangkan
sikap yang logis kecuali dengan mengakui bahwa
kekeliruan-kekeliruan itu berasal dari manusia dan
rasanya tidak mungkinlah untuk menerima
kekeliruan-kekeliruan tersebut sebagai suatu bagian
daripada wahyu.

Krisis yang mencekam kalangan-kalangan Gereja mengenai
wahyu telah terungkap dalam Konsili Vatikan II
(1962-1965), di mana diperlukan lebih dari 5 redaksi
untuk sampai kepada suatu teks final sesudah perdebatan
selama 3 tahun. Dengan begitu maka berakhirlah "situasi
yang parah dan mengancam bubarnya Konsili," menurut
kata-kata Monsieur Weber dalam kata pengantarnya untuk
dokumen no. 4 mengenai: Wahyu.

Dua kalimat dalam dokumen Konsili Vatikan mengenai
Perjanjian Lama (fasal 4, halaman 3) menyebutkan
kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan beberapa
teks dengan cara yang tidak dapat lagi dibantah.

Dengan mengingat situasi manusia sebelum keselamatan
yang ditegakkan oleh Yesus Kristus, kitab-kitab
(fasal-fasal) Perjanjian Lama memungkinkan kepada kita
semua untuk mengetahui siapa Tuhan itu dan siapa
manusia itu, begitu juga rasanya Tuhan dalam
keadilanNya dan rahmatNya bertindak terhadap manusia.
Kitab-kitab (fasal-fasal) itu walaupun mengandung
hal-hal yang tidak sempurna dan lemah, merupakan saksi
dari pendidikan ilahi yang benar.6

Dengan kata "imparfait" (tidak sempuma) dan "Caduc"
(lemah) yang dipakai untuk memberi ciri kepada beberapa
teks, berarti bahwa teks-teks tersebut dapat dikritik
dan dapat ditinggalkan. Prinsip ini telah diterima
secara jelas sekali.

Teks ini merupakan satu bagian daripada deklarasi umum
yang mendapat 2344 suara pro dan 6 kontra. Tetapi
sesungguhnya tidak diperlukan adanya gambaran hampir
aklamasi. Dalam tafsiran dokumen resmi, di bawah tanda
tangan Monsigneur Weber kita dapatkan suatu kalimat
yang dengan jelas mengoreksi adanya "caducite"
(kelemahan) beberapa teks yang termasuk dalam deklarasi
agung daripada Konsili "Tidak ada syak lagi bahwa
beberapa fasal dari Bibel Israil mempunyai sifat
"sementara" dan sifat "tidak sempurna."

"Caduc" suatu kata dalam deklarasi resmi, tidak sinonim
dengan "sifat sementara" yang dipakai oleh juru tafsir.
Mengenai kata sifat "Israilite" yang ditambahkan,
memberi kesan bahwa deklarasi Konsili hanya dapat
mengkritik versi Ibrani; padahal soalnya tidak begitu.
Yang menjadi sasaran Konsili adalah Perjanjian Lama,
dan Perjanjian Lama itulah yang dianggap mengandung
kekurangan dan kelemahan dalam beberapa bagiannya.

V. KESIMPULAN

Kita harus memandang Bibel bukan dengan melekatkan
kepadanya secara resmi sifat-sifat yang kita inginkan
untuknya, tetapi, dengan menelitinya sebagaimana adanya
secara obyektif. Ini memerlukan pengetahuan tentang
teks dan juga tentang sejarah teks-teks tersebut.
Sejarah teks memungkinkan kita memperoleh idea tentang
keadaan-keadaan yang mendorong kepada terjadinya
perubahan-perubahan teks selama beberapa abad, kepada
terbentuknya teori yang kita miliki secara pelan-pelan
dengan beberapa pengurangan atau penambahan.

Hal-hal tersebut memungkinkan sekali bahwa dalam
Perjanjian Lama kita mendapatkan versi bermacam-macam
mengenai sesuatu hikayat, atau mendapatkan
kontradiksi-kontradiksi, kekeliruan sejarah, kesalahan
dan ketidak sesuaian dengan pengetahuan-pengetahuan
ilmiah yang sudah pasti. Hal-hal yang akhir ini sangat
wajar dalam karya manusia kuno, sehingga wajar pula
jika kita menemukannya dalam buku-buku yang ditulis
dalam kondisi tersusunnya teks Bibel.

Sebelum problema ilmiah muncul, dalam periode di mana
orang belum dapat mengatakan tidak benar atau
kontradiksi, seseorang yang berperasaan sehat seperti
Agustinus, berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin
mengajarkan kepada manusia hal-hal yang tidak sesuai
dengan kebenaran, dan ia membentuk suatu prinsip yaitu:
kemustahilan bahwa pernyataan yang tidak sesuai dengan
kebenaran itu berasal dari Tuhan. Dan karena itu ia
bersedia untuk mengeluarkan hal yang semacam itu dari
Bibel.

Kemudian, ketika orang sudah dapat memahami bahwa
beberapa bagian Bibel tidak sesuai dengan pengetahuan
modern, manusia tidak suka mengikuti sikap seperti
tersebut di atas. Dengan begitu kita mengalami
perkernbangan teratur yang bertujuan untuk memelihara
dalam Bibel teks-teks yang mestinya sudah tidak
mempunyai tempat lagi.

Konsili Vatikan II (1962-1965) telah meredakan sikap
yang keras ini dengan mengemukakan reserve untuk
"fasal-fasal Perjanjian Lama" yang mengandung "hal-hal
yang kurang sempurna dan hal-hal yang lemah." Apakah
sifat reserve tersebut merupakan suatu pandangan taqwa
semata-mata atau akan disusul dengan perubahan sikap
terhadap hal-hal yang tak dapat diterima lagi pada abad
XX dalam buku-buku yang jika diselamatkan dari
perubahan-perubahan yang dibikin oleh manusia, hanya
akan dijadikan oleh Tuhan sebagai saksi daripada
pendidikan suci yang hakiki.

Media isnet


Google Translite.



English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google