Peninjauan Ulang Penyaliban Jesus Dan Berhasil Selamat-Nya Jesus Dari Kematian Di Kayu Salib,

Salamun ‘ala manittaba al Huda.,
Semoga Keselamatan Ter limpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk., Berikut ini adalah Lanjutan Dari Note Terdahulu Atau Bisa Di lihat

http://cites-sat.blogspot.com/2012/01/naskah-laut-mati-benang-merah-jesus.html

http://cites-sat.blogspot.com/2012/01/benarkah-jesus-meninggal-di-tiang-salib.html

Di Si Saya hanya akan memuat Ulang Fakta seputar peristiwa penyaliban Nabi Isa alias Yesus Kristus dalam terminologi Kristiani Dan berhasil selamatnya Isa al~Masih dari kematiannya dikayu salib

Dalam salah satu dokumen berbahasa Latin yang dikenal dengan nama “ The Crucifixion by An Eye Witness ”, ditemukan pada akhir tahun 1800-an dan dinyatakan disana
bahwa dokumen itu merupakan salinan dari naskah yang lebih tua lagi yang berasal dari salah satu anggota perkumpulan Essenes, menyebutkan tentang berhasil selamatnya Isa al~Masih dari kematiannya dikayu salib berkat bantuan dari Yusuf Arimatea dan sahabat-sahabatnya sehingga Isa sewaktu menampakkan dirinya kehadapan para murid sesudah kejadian itu seolah orang yang bangkit dari kematian. Dokumen ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1873 tetapi kemudian hilang tanpa jejak seiring dengan hilangnya sebagian besar salinan yang sempat dibuat darinya sampai akhirnya ditemukan kembali salah satu diantaranya di Massachussets pada tahun 1907 dan dipublikasikan ulang di kota Chicago.

Pada tahun 1963, sebuah naskah tua lain yang disebut Talmud Jmmanuel ditemukan oleh seorang Pendeta Katolik Yunani bernama Isa Rashid didalam sebuah gua yang disebutnya sebagai gua penguburan jasad Isa al~Masih. Naskah ini ditulis dalam bahasa Aram kuno (yaitu bahasa yang digunakan oleh Isa al~Masih dan masyarakatnya waktu itu), terbungkus damar dan terpendam didalam bebatuan datar. Naskah ini menuliskan Yusuf Arimatea menyadari bahwa Isa masih hidup dan masih bisa diselamatkan dari kematiannya disalib, segera bergegas menemui Pontius Pilatus untuk meminta izin kepadanya mengambil jasad Isa yang masih tergantung dan tampak mati diatas kayu palang. Setelah diizinkan oleh Pontius Pilatus, Yusuf membawa jasad Isa kemakam miliknya disebuah komplek taman yang juga memiliki pintu masuk rahasia dan dari sanalah Yusuf bersama sahabat-sahabatnya(termasuk Nikodemus) melakukan pengobatan untuk menyembuhkan dan memulihkan kembali Isa al~Masih dari semua luka- lukanya. Setelah tiga hari, Isa mulai sembuh dan kuat untuk berjalan seperti biasa. Setelah ia menampakkan dirinya pada beberapa peristiwa kepada murid-muridnya, Isa hijrah ke Syiria lalu masuk ke India yang daerahnya saat ini masuk sebagai wilayah Pakistan Barat, terus ke Afganisthan, naik kepuncak Himalaya dimana dia meneruskan pengajarannya. Naskah Talmud Jmmanuel ini juga menuliskan bahwa Isa selanjutnya melakukan pernikahan serta memiliki beberapa anak.

Berdasarkan catatan seorang sejarawan Yahudi bernama Flavius Josephus yang banyak menyaksikan dan mencatat kasus-kasus penyaliban yang dilakukan oleh orang-orang Romawi terhadap mereka- mereka yang dianggap pemberontak atau penjahat yang mana yaitu tentang terbukanya kemungkinan orang yang dihukum salib untuk tetap bertahan hidup dan disembuhkan kembali. Dalam bukunya yang berjudul The Life of Flavius Josephus

Argumentasi pendukung dalam teori bertahan hidupnya Isa al~Masih sampai ia diturunkan dikayu salib. Diantaranya adalah singkatnya waktu penyaliban yang terjadi saat itu, yaitu hanya sekitar 3 jam (dimulai pada jam 12 sampai jam 15.00), disusul dengan kedua orang yang ikut disalib bersama Isa al~Masih yang waktu itu keadaan keduanya masih dalam kondisi yang segar bugar sehingga para serdadu Romawi itu mematahkan kaki mereka untuk mempercepat kematiannya (dan memang wajar sekali jika orang baru mati dalam penyiksaan dikayu salib setelah lebih dari satu sampai tiga harian), argumen kita berikutnya adalah keterkejutan Pontius Pilatus yang telah menjatuhkan hukuman tersebut ketika mendengar bahwa Isa al~Masih telah dinyatakan wafat dalam waktu secepat itu yang tentu saja dengan pemikiran wajarnya sebagai orang yang sering menyaksikan maupun menjatuhkan hukuman mati melalui metode penyaliban, kematian Isa yang diluar kebiasaan tersebut menimbulkan
kebingungannya sendiri.

Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. – Injil Markus pasal 15 ayat 44

Argumen lainnya yang bisa kita sodorkan adalah meninjau ulang apa yang pernah disampaikan oleh Injil Lukas pasal 22 ayat 43 didetik- detik menjelang penangkapan : Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepadanya untuk memberi kekuatan kepadanya

Bila yang dimaksud dengan memberi kekuatan pada ayat diatas adalah memberi semangat agar Isa tabah menerima kehendak Allah yang akan berlaku pada dirinya, maka sekali lagi kita ajukan juga apa yang disampaikan oleh Paulus dalam Kitab Ibrani pasal 5 ayat 7 :

Dalam hidupnya sebagai manusia, ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada- Nya yang sanggup menyelamatkannya dari maut, dan karena kesalehannya, beliau telah didengarkan. Jadi dari ucapan Paulus diatas kita bisa mengambil asumsi kuat bahwa Isa al~Masih telah ditolong oleh Tuhan dari kematian (maut) yang bisa menimpanya dalam proses yang akan dia hadapi (inilah makna dari kata-kata “beliau telah didengarkan” yang artinya permintaan untuk selamat dari maut dikabulkan). Sebagai umat Islam, kita punya data yang sangat otentik untuk menjadi pegangan dalam masalah mati atau hidupnya Isa al~Masih saat penyaliban itu, dan data itu adalah wahyu Allah didalam al-Qur’an sebagai berikut :
Dan perkataan mereka: “Bahwa kami telah membunuh al~Masih Isa putera Maryam, utusan Allah”,
padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan untuk mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka yakin telah membunuhnya. -Qs. 4 An- Nisaa’ 157

Dari nash-nash ini kita memperoleh kesimpulan bahwa penyaliban itu dimulai dari jam sembilan pagi sampai jam tiga siang dimana Isa akhirnya dinyatakan mati dengan tenang oleh para penulis Injil setelah ia meminum sebuah larutan anggur asam. Uniknya, kaki Isa tidak dipatahkan dalam kejadian penyaliban itu berbeda dengan kedua orang yang ikut disalib bersamanya yang menjalani proses pematahan tulang-tulang kaki, dan kematian Isapun hanya atas dasar melihat, bukan menyentuhnya sehingga asumsi bahwa Isa memang sudah wafat pada hakekatnya masih sangat layak kita ajukan. Juga dengan keluarnya darah dan air setelah ditombak oleh salah seorang prajurit Romawi ikut membuktikan betapa kondisi Isa diwaktu terlihat mati itu ternyata bisa jadi malah masih hidup. Para peneliti menyatakan bahwa mustahil sebuah tubuh yang telah mati untuk mengucurkan darah.

Dr. W.B. Primrose misalnya, seorang ahli anastesi dalam tulisan beliau diharian ” Thinker Digest ” mengatakan air tersebut disebabkan oleh adanya gangguan syaraf pada pembuluh darah lokal akibat rangsangan yang berlebihan dari proses penyaliban. Senada dengan Primrose tersebut, Johnson C. D. dalam tulisannya “Medical and Cardiological Aspects of the Passion and Crucifixion of Jesus the Christ “ mengatakan bahwa analisis atas luka yang diakibatkan oleh tombak tentara Roma menunjukkan adanya dua lubang luka, satu di sisi kanan dada saat tombak mempenetrasi rongga dada dan luka satunya lagi di sisi kiri dada yang diakibatkan oleh ujung tombak yang keluar dari tubuh. Bila ditarik garis datar dari lubang masuk sampai ke lubang keluar maka
terlihat kalau sudut derajat tombak saat menembus rongga dada adalah 29 derajat. Karena tombak itu menembus di antara rusuk kelima dan keenam maka garis lintas tombak itu pasti lewat di atas jantung.

Dengan demikian salah jika menyimpulkan bahwa darah dan air yang keluar dari luka diakibatkan oleh penetrasi bilik jantung. Lebih mungkin disebut sebagai “ efusi pleuri “ (pleura adalah membran pembungkus paru-paru) sekunder atau emboli kecil pulmonari yang menimbulkan koleksi hemorhegik. Aliran darah kedua dari luka sisi tersebut terjadi ketika tubuh diletakkan di suatu tempat yang horisontal dan ini mendukung pandangan bahwa yang terjadi adalah efusi pleuri karena keadaannya akan lain jika yang tertembus adalah jantung itu sendiri yang pasti akan langsung mengakibatkan kematian. Sarjana Biblika lainnya bernama Dr. Hugh J. Schonfield, dalam bukunya yang berjudul “The Passover Plot“, mengeluarkan sebuah teori bahwa cairan anggur asam yang telah diminumkan kepada Isa al~Masih ketika beliau merasakan kehausan dalam penyaliban mengandung sejenis obat yang mampu membuat Isa kehilangan kesadarannya dalam waktu cepat dan tampak seolah-olah telah mati.

Argumen Hugh J. Schonfield layak kita kaji juga secara ilmiah, bahwa istilah “Anggur asam“ yang diceritakan oleh al-Kitab tersebut dalam bahasa
aslinya adalah Oxos yang menurut kamus Strong’s Hebrew and Greek Dictionaries dengan nomor 3690 mengartikannya sebagai sejenis minuman anggur tetapi sangat masam (dalam al-Kitab bahasa Inggris istilah ini diterjemahkan dengan kata “Vinegar“ dan dalam al- Kitab berbahasa Latin atau Vulgate diterjemahkan dengan istilah Acetum).

Vas ergo positum erat aceto plenum illi autem spongiam plenam aceto hysopo circumponentes obtulerunt ori eius. cum ergo accepisset Iesus acetum dixit consummatum est et inclinato capite tradidit spiritum – Injil Yohanes pasal 19 ayat 29 dan 30 dari al-Kitab berbahasa Latin Now there was a vessel set there, full of vinegar. And they, putting a sponge full of vinegar about hyssop, put it to his mouth. Jesus therefore, when he had taken the vinegar, said: It is consummated. And bowing his head, he gave up the ghost. – Injil Yohanes pasal 19 ayat 29 dan 30 dari al-Kitab berbahasa Inggris versi Douay-Rheims

Dalam budaya Persia dan Timur Tengah umumnya mengenal Minuman persembahan suci (Haoma Drink). Haoma Drink ini dibuat dari Jus tanaman Asclepias Acida yang memiliki efek samping bisa membuat seseorang menjadi koma (mati suri) dan inilah yang bagi sebagian peneliti serta sejumlah sarjana Biblika telah terjadi pada diri Isa al~Masih yang selanjutnya dikenal dengan “teori pingsan” atau “Swoon Hypothesis”. Beberapa pendukung teori ini dari kalangan sarjana Biblika (non-Muslim) adalah Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln, Barbara Thiering, Hugh
J. Schonfield, Robert Graves, Ernest Brougham Docker, Donovan Joyce, J.D.M. Derret, Holger Kersten dan seterusnya, sementara dari pihak Muslim sendiri muncul nama-nama seperti Hasbullah Bakry, Ahmad Deedat, Irena Handono, Sanihu Munir dan lain sebagainya termasuk saya
pribadi. –
Salamun ‘ala manittaba al
Huda


Google Translite.



English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google