Halaman

Apakah Jesus Dan Isa Almasih Sama?

Pertanyaan Ini Mungkin Kerap Terjadi Dalam Dunia Luas Baik Dunia Cristiani Maupun Dunia Islami.

Pertanyaanya

Di Dalam Al-Qur’an menyebut nama beliau dengan al-Masih ‘Isa putera Maryam

Di Bible menyebut nama beliau dengan Yesus Kristus putera Allah Bapa

Jadi Mana yang benar ?

Jawabanya :

Istilah Yesus Kristus atau Jesus
Christ yang sekarang dijumpai didalam Bible bukanlah nama aslinya, karena nama itu adalah hasil terjemahan kedalam bahasa Yunani (Gerika) dari bahasa aslinya yang diterapkan oleh para penerjemah kitab Bible agar lebih mudah diterima dan diucapkan oleh masyarakat yang berbahasa Yunani pada abad pertama dan kedua, disamping itu, masyarakat Gerika pada saat itu gemar sekali pada mitologi, kepercayaan, penyembahan berhala kepada dewa ‘Zeus’ dan juga ‘Dionysius’ atau sejenisnya, sehingga nama tersebut diterjemahkan dalam bentuk yang sudah dikenal dan mudah bagi lidah masyarakat mereka, yaitu ‘Iesous,’ kemudian dari bentuk inilah diperoleh sebutan ‘Jesus’ dalam bahasa Inggris atau ‘Yesus’ dalam bahasa Indonesia.

Ingat cerita mengenai Barnabas dan Paulus di Likaonia ?

Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berseru dalam bahasa Likaonia: “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara. – Kisah Para Rasul pasal 14 ayat 11 dan 12

Jika reaksi dari penduduk Yunani semacam ini yang menganggap Barnabas dan Paulus sebagai dewa berbentuk manusia, maka hal ini menandakan bahwa keduanya mengalami kesulitan praktis dalam menyebarkan ajaran tentang Messias Israel. Bagi orang- orang Yunani yang Polytheisme, penggambaran tentang sosok sang Messias Israel, haruslah sesuai dengan salah satu dewa mereka, dan mungkin sekali mereka siap untuk menerima ajaran Tauhid dalam penggambaran seperti ini. Sebab bagi pemahaman mereka, tetap ada ruang untuk lebih dari satu. Ajaran Nabi putera Maryam mengenai Tauhid, adalah suatu bentuk penghapusan semua dewa- dewa yang beragam itu. Ajaran ini yang tidak bisa diterima oleh mereka. Tugas menciptakan cara hidup yang diajarkan oleh konsep Tauhid di Yunani tanpa menyesuaikan diri dengan lingkungannya, pastilah sangat berat karena itu dimulailah pengadopsian sosok sang Messias dari tokoh dewa yang sudah ada dan agar tetap tampil beda disesuaikanlah namanya menjadi Iesous seperti yang telah diterangkan dimuka.

Nama Yesus sendiri dalam bahasa Yahudi adalah ( Yaohushua ) diucapkan ‘yao-hóo-shua’ – tekanan pada suku kata kedua, dengan pengucapan huruf hidup pada suku kata pertama seperti pada pengucapan kata ‘how’ dalam bahasa Inggris. Arti dari Yaohushua ini adalah kuasa Yaohu menyelamatkan. Yaohu sendiri berasal dari kata
Yáohu UL, yaitu sebutan untuk Allah dalam bahasa Yahudi sehingga nama itu bisa diartikan Nabi yang akan menyelamatkan umatnya (yaitu Bangsa Israel) dengan kuasa Allah (seperti yang juga
bisa dirujuk ke Injil Matius pasal 1 ayat 21 : karena dialah yang akan menyelamatkan umatnya dari dosa mereka.)

Tetapi patut diingat juga bahwa bahasa yang digunakan oleh beliau pada waktu itu adalah bahasa Aram (yaitu bahasa ibunya bangsa semit kuno), maka nama Yaohushua tersebut dalam bahasa Aramnya adalah Eesho (bukan Esau). Istilah Aram Eesho sama dengan istilah Arab ‘Isa, karena antara bahasa Arab dengan bahasa Aram merupakan satu rumpun.

Jadi, dalam hal ini, penggunaan nama ‘Isa yang dijumpai dalam al-Qur’an, jauh lebih tepat dibanding dengan istilah Yesus yang ada dalam al-Kitab Kristen (Bible).

Untuk mempelajari khusus tentang nama Yaohushua ini lebih jauh maka saya persilahkan anda atau siapa saja untuk membacanya lebih lengkap di “Introduction to the Restored Name King James Version” http://www.eliyah.com/Scripture/preface.htm yang juga sudah diterima sebagai salah satu modul resmi aplikasi Electronic Bible : e- sword (www.e-sword.net ) karya Rick Meyers.

Kemudian Istilah Jesus Putra Allah Bapa Adalah hanyalah kiasan semata, karena sosok yang disebut sebagai Tuhan Bapa dalam terminologi Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah konsepsi Tuhan yang Maha Tunggal atau Tuhan yang Laam Yaalid Waalam Yuulad, bukan Tuhan yang berbilang. Dengan demikian maka istilah anak Allah bukan merupakan istilah yang sebenarnya. Bagaimanapun, Eesho alias Yesus alias ‘Isa adalah anak seorang manusia bernama Maryam dengan sebuah takdir atau ketentuan yang sudah ditetapkan kepadanya dengan tidak mengandung unsur-unsur ketuhanan sedikitpun.

Yohanes 17:21 dan 23

“Supaya mereka semua
menjadi satu, sama seperti
Engkau, ya Bapa, di dalam aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus aku. “

“Aku di dalam mereka dan
Engkau di dalam aku supaya
mereka sempurna menjadi
satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi aku.”

Kalimat “Bapa dalam aku”,
dan muridnya pun jadi satu
dengan Allah dan Yesus mempunyai pengertian
bahwa Allah selalu menyertai Yesus dan para muridnya dimana dan kapan saja, ini BUKAN suatu pernyataan bahwa Allah = Yesus atau Allah = murid-murid Selain itu, untuk menambah kelengkapan penjelasan bahwa anak Tuhan yang dipakaikan terhadap Yesus hanyalah satu kiasan, kita tarik lagi benang merah antar ayat-ayat Bible.Kalimat anak
Tuhan ini juga bisa kita
temukan dalam berbagai ayat Bible lainnya yang merujuk pada pribadi atau golongan selain dari Yesus.

Daud disebut sebagai anak
Allah yang sulung berdasarkan Mazmur 89:27
Yakub alias Israil adalah anak Allah yang sulung berdasarkan Keluaran 4:22 dan 23
Afraim adalah anak Allah
yang sulung berdasar pada
Yeremia 31:9
Adam disebut sebagai anak Allah berdasar Lukas 3:38
Selanjutnya tercatat pula
adanya anak-anak Allah
dalam : Kitab Kejadian 6:2 dan 6:4, Kitab Job 1:6 dan Job 2:1 serta Job 38:7 Bahkan salah satu kriteriauntuk menjadi anak-anak Allah adalah sebagaimana diriwayatkan oleh Matius pasal 5 ayat 9 dan juga Yohanes pasal 1 ayat 12:
“Berbahagialah orang yang
membawa damai, karena
mereka akan disebut anak-
anak Allah.”
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya
kuasa supaya menjadi anak-
anak Allah, yaitu mereka
yang percaya dalam nama-
Nya”.

Dengan demikian maka sebagai kesimpulan akhir dari semua ini adalah : Bahwa yang disebut selaku anak Allah itu merupakan manusia yang dicintai atau diridhoi Allah yang lazim juga dikenal sebagai para kekasih Allah atau mereka yang taat kepada perintah-perintah Tuhan.

Salamun ‘ala manittaba al Huda